<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mothmot's Blog</title>
	<atom:link href="http://mothmot.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mothmot.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Jun 2009 05:03:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mothmot.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mothmot's Blog</title>
		<link>http://mothmot.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mothmot.wordpress.com/osd.xml" title="Mothmot&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mothmot.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>persalinan letak sungsang</title>
		<link>http://mothmot.wordpress.com/2009/06/03/persalinan-letak-sungsang/</link>
		<comments>http://mothmot.wordpress.com/2009/06/03/persalinan-letak-sungsang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 04:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mothmot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mothmot.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[imadeharyoga.com everything is OK! Home About Me Youth Clinic My Link Penanganan untuk Kehamilan dan Persalinan Letak Sungsang Posted in health: kesehatan on Oct 16, 2008 Bagaimana bila anda atau saudari mengalami kehamilan dengan letak sungsang? Letak sungsang merupakan keadaan dimana bokong janin atau kaki berada di bagian bawah kavum uteri (rongga rahim). Ulasan berikut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mothmot.wordpress.com&amp;blog=7530957&amp;post=56&amp;subd=mothmot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-57" title="sss" src="http://mothmot.files.wordpress.com/2009/06/sss.jpeg?w=420" alt="sss"   /></p>
<div id="top">
<div id="headr">
<div id="logo">
<h1><a href="http://imadeharyoga.com/"> imadeharyoga.com </a></h1>
<div>everything is OK!</div>
</div>
<div id="top-menu">
<ul>
<li><a title="Home" href="http://imadeharyoga.com/">Home</a></li>
<li><a title="About Me" href="http://imadeharyoga.com/about/">About Me</a></li>
<li><a title="Youth Clinic" href="http://imadeharyoga.com/youth-clinic/">Youth Clinic</a></li>
<li><a title="My Link" href="http://imadeharyoga.com/my-link/">My Link</a></li>
</ul>
</div>
</div>
</div>
<hr />
<h2><a title="Permanent Link to Penanganan untuk Kehamilan dan Persalinan Letak Sungsang" rel="bookmark" href="http://imadeharyoga.com/2008/10/penanganan-untuk-kehamilan-dan-persalinan-letak-sungsang/">Penanganan untuk Kehamilan dan Persalinan Letak Sungsang</a></h2>
<p><span>Posted in <a title="View all posts in health: kesehatan" rel="category tag" href="http://imadeharyoga.com/category/health-kesehatan/">health: kesehatan</a></span> <span>on Oct 16, 2008</span></p>
<p><a href="http://www.medformation.com/adamsurgpres/19157.jpg"><img src="http://www.medformation.com/adamsurgpres/19157.jpg" alt="" width="299" height="239" /></a>Bagaimana bila anda atau saudari mengalami kehamilan dengan letak sungsang? Letak sungsang merupakan keadaan dimana bokong janin atau kaki berada di bagian bawah kavum uteri (rongga rahim). Ulasan berikut tentang patofisologi, etiologi atau penyebab, bagaimana mendiagnosis atau mengetahui apakan janin letak sungsang atau tidak, dan bagaimana penanganan bila sesorang akan melahirkan bayi dengan letak sungsang. Untuk ibu hamil dan rekan-rekan yang bergerak dibidang medis ataupun kehamilan ulasan ini sangat perlu diketahui. Sebagian besar selama kehamilan, fetus (janin) yang sedang berkembang sangat bebas untuk bergerak di dalam uterus (rahim). Antara umur kehamilan 32-36 minggu, fetus bertambah besar sehingga pergerakannya terbatas. Sangat sulit bagi fetus untuk turn over, jadi apapun posisi yang dicapai pada saat ini biasanya sama dengan posisi saat persalinan akan dimulai. Sayangnya, beberapa fetus tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berada dalam posisi sungsang.<span> </span><br />
<a href="http://www.halohalo.co.id/gambar/180x279sungsang.jpg"><img src="http://www.halohalo.co.id/gambar/180x279sungsang.jpg" alt="" width="180" height="279" /></a>Letak sungsang terjadi dalam 3-4% dari persalinan yang ada. Terjadinya letak sungsang berkurang dengan bertambahnya umur kehamilan. Letak sungsang terjadi pada 25% dari persalinan yang terjadi sebelum umur kehamilan 28 minggu, terjadi pada 7% persalinan yang terjadi pada minggu ke 32 dan terjadi pada 1-3% persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm. Faktor-faktor lain yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah multiparitas, kehamilan kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, panggul sempit, dan kadang-kadang letak sungsang disebabkan oleh kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus.<br />
Baik ibu maupun janin dengan letak sungsang memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan dengan letak kepala. Manipulasi secara manual dalam jalan lahir akan memperbesar risiko infeksi pada ibu.6 Pada janin, mortalitas tiga kali lebih besar dibandingkan dengan presentasi verteks, hal ini disebabkan karena setelah sebagian janin lahir maka uterus akan berkontraksi yang berakibat pada gangguan sirkulasi uteroplasenta, janin akan bernafas, dan terjadilah aspirasi air ketuban, mekonium, lendir dan darah.2<br />
Untuk menegakkan diagnosis letak sungsang diperlukan beberapa hal, yaitu anamnesis yang komunikatif dan terarah, pemeriksaan fisik yang teliti dan seksama, dan penunjang diagnosis dalam hal ini yaitu pemeriksaan ultrasonografi yang sangat membantu diagnosis dan pelaksanaan terapi serta intervensi lebih dini bisa dilakukan. Dalam kehamilan, mengingat bahaya-bahayanya, sebaiknya persalinan dalam letak sungsang dihindarkan. Untuk itu bila pada waktu pemeriksaan antenatal dijumpai letak sungsang, terutama pada primigravida, hendaknya diusahakan melakukan versi luar menjadi presentasi kepala.<br />
Sedangkan dalam persalinan, untuk menolong persalinan letak sungsang diperlukan lebih banyak ketekunan dan kesabaran dibandingkan dengan persalinan presentasi kepala. Selama terjadi kemajuan persalinan dan tidak ada tanda-tanda bahaya yang mengancam kehidupan janin, maka penolong tidak perlu melakukan tindakan yang bertujuan untuk mempercepat kelahiran janin.<br />
Letak sungsang ini akan memerlukan teknik persalinan yang berbeda dengan persalinan letak kepala baik dalam persalinan pervaginam maupun sectio cesarea. Persalinan pervaginam sungsang terdiri dari tiga jenis yakni spontan, manual aid dan total ekstraksi dimana semuanya memiliki resiko terutama pada fetal seperti asfiksi dan lainnya sedangkan indikasi untuk melakukan section cesarea pada letak sungsang sama dengan indikasi umum section cesarea secara umum.<br />
Khusus pada persalinan pervaginam, terdapat beberapa teknik atau perasat yang digunakan pada situasi berbeda pada letak sungsang, namun semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu melahirkan bayi dengan selamat.<br />
Ada beberapa komplikasi yang mungkin timbul dalam persalinan sungsang yang dapat mempengaruhi prognosis ibu dan bayi yang dilahirkan yang sedapat mungkin dihindari dengan cara menguasai teknik persalinan sungsang dengan baik guna mencapai “well born baby” dan “well health mother”.<br />
Berikut akan diulas satu persatu mulai dari definisi menurut dunia kedokteran.</p>
<p><strong>Mengenai Pengertian dari Persalinan Letak Sungsang</strong><br />
Persalinan sungsang adalah persalinan untuk melahirkan janin yang membujur dalam uterus dengan bokong atau kaki pada bagian bawah dimana bokong atau kaki akan dilahirkan terlebih dahulu daripada anggota badan lainnya.</p>
<p>Prevalensi<br />
Letak sungsang terjadi dalam 3-4% dari persalinan yang ada. Terjadinya letak sungsang berkurang dengan bertambahnya umur kehamilan. Letak sungsang terjadi pada 25% dari persalinan yang terjadi sebelum umur kehamilan 28 minggu, terjadi pada 7% persalinan yang terjadi pada minggu ke 32 dan terjadi pada 1-3% persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm.2,3 Sebagai contoh, 3,5 persen dari 136.256 persalinan tunggal dari tahun 1990 sampai 1999 di Parkland Hospital merupakan letak sungsang.1</p>
<p><strong>Patofisiologi</strong><br />
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang.6<br />
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala.6<br />
Sayangnya, beberapa fetus tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berada dalam posisi sungsang.<br />
Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni:1,2,3,4,5,6<br />
• Presentasi bokong (frank breech) (50-70%). Pada presentasi bokong akibat ekstensi kedua sendi lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujungnya terdapat setinggi bahu atau kepala janin. Dengan demikian pada pemeriksaan dalam hanya dapat diraba bokong.<br />
• Presentasi bokong kaki sempurna ( complete breech ) ( 5-10%). Pada presentasi bokong kaki sempurna disamping bokong dapat diraba kaki.<br />
• Presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki ( incomplete or footling ) ( 10-30%). Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya terdapat satu kaki di samping bokong, sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas. Pada presentasi kaki bagian paling rendah adalah satu atau dua kaki.</p>
<p><a href="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/sungsang1.jpg"><img src="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/sungsang1.jpg" alt="" width="375" height="140" /></a>Gambar Presentasi letak sungsang. Berturut-turut dari kiri ke kanan : complete breech, frank breech, dan footlink breech. 7</p>
<p><strong>Etiologi</strong><br />
Ada beberapa penyebab yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah:4<br />
1.	Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air ketuban masih banyak dan kepala anak relatif besar<br />
2.	<a href="http://bidanku.com/index.php?/Hidramnion-Kelebihan-Air-Ketuban">Hidramnion</a> karena anak mudah bergerak.<br />
3.	Plasenta previa karena menghalangi turunnya kepala ke dalam pintu atas panggul.<br />
4.	Panggul sempit<br />
5.	Kelainan bentuk kepala: hidrocephalus, anencephalus, karena kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.<br />
Faktor lain yang menjadi predisposisi terjadinya letak sungsang selain umur kehamilan termasuk diantaranya relaksasi uterus berkaitan dengan multiparitas, multi fetus, persalinan sungsang sebelumnya, kelainan uterus dan tumor pelvis. Plasenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula menyebabkan letak sungsang, karena plasenta mengurangi luas ruangan di daerah fundus.6<br />
Fianu dan Vaclavinkova (1978) menemukan prevalensi lebih tinggi pada implantasi plasenta di daerah kornual-fundal pada letak lintang (73 %) dari presentasi vertex (5 %) dengan sonografi. Frekuensi terjadinya letak sungsang juga meningkat dengan adanya plesenta previa, tetapi hanya sejumlah kecil letak sungsang yang berhubungan dengan plasenta previa. Tidak ada hubungan yang kuat antara letak sungsang dengan pelvis yang menyempit (panggul sempit).1</p>
<p><strong>Diagnosis</strong><br />
Diagnosis letak sungsang pada umumnya tidak sulit. Pada pemeriksaan luar, di bagian bawah uterus tidak dapat diraba bagian yang keras dan bulat, yakni kepala, dan kepala teraba di fundus uteri. Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala. Seringkali wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada kehamilannya yang terdahulu, karena terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah. Denyut jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi daripada umbilikus. 6<br />
Apabila diagnosis letak sungsang dengan pemeriksaan luar tidak dapat dibuat, karena misalnya dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi atau banyaknya air ketuban, maka diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan dalam. Apabila masih ada keragu-raguan, harus dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik atau M.R.I. ( Magnetic Resonance Imaging ). 6<br />
Setelah ketuban pecah, dapat diraba lebih jelas adanya bokong yang ditandai dengan adanya sakrum, kedua tuber ossis iskii, dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan. Pada persalinan lama, bokong janin mengalami edema, sehingga kadang-kadang sulit untuk membedakan bokong dengan muka. 6<br />
Pemeriksaan yang teliti dapat membedakan bokong dengan muka karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan ke dalam mulut akan meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan. Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba disamping bokong, sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak sempurna, hanya teraba satu kaki di samping bokong.1,6</p>
<p><strong>Penatalaksanaan Dalam kehamilan</strong><br />
Mengingat bahaya-bahayanya, sebaiknya persalinan dalam letak sungsang dihindarkan. Untuk itu bila pada waktu pemeriksaan antenatal dijumpai letak sungsang, terutama pada primigravida, hendaknya diusahakan melakukan versi luar menjadi presentasi kepala. Versi luar sebaiknya dilakukan pada kehamilan antara 34 dan 38 minggu. Pada umumnya versi luar sebelum minggu ke-34 belum perlu dilakukan, karena kemungkinan besar janin masih dapat memutar sendiri, sedangkan setelah minggu ke-38 versi luar sulit untuk berhasil karena janin sudah besar dan jumlah air ketuban relatif berkurang. 6<br />
Sebelum melakukan versi luar, diagnosis letak janin harus pasti, sedangkan denyut jantung janin harus baik. Apabila bokong sudah turun, bokong harus dikeluarkan lebih dahulu dari rongga panggul, tindakan ini dilakukan dengan meletakkan jari-jari kedua tangan penolong pada perut ibu bagian bawah untuk mengangkat bokong janin. Kalau bokong tidak dapat dikeluarkan dari panggul, usaha untuk melakukan versi luar tidak ada gunanya. Setelah bokong keluar dari panggul, bokong ditahan dengan satu tangan, sedang tangan yang lain mendorong kepala ke bawah sedemikian rupa, sehingga fleksi tubuh bertambah. 6<br />
Selanjutnya kedua tangan bekerjasama untuk melaksanakan putaran janin untuk menjadi presentasi kepala. Selama versi dilakukan dan setelah versi berhasil denyut jantung janin harus selalu diawasi. Sesudah janin berada keadaan presentasi kepala, kepala didorong masuk ke rongga panggul. Versi luar hendaknya dilakukan dengan kekuatan yang ringan tanpa mengadakan paksaan. Versi luar tidak ada gunanya dicoba bila air ketuban terlalu sedikit, karena usaha tersebut tidak akan berhasil. 6<br />
Kontraindikasi lain untuk melakukan versi luar ialah: 1) panggul sempit, 2) perdarahan antepartum; 3) hipertensi; 4) hamil kembar; 5) plasenta previa. Pada panggul sempit tidak ada gunanya melakukan versi luar, karena meskipun berhasil menjadi presentasi kepala, akhirnya perlu dilakukan seksio sesarea. Tetapi bila kesempitan panggul hanya ringan, versi luar harus diusahakan karena kalau berhasil akan memungkinkan dilakukan partus percobaan. Versi luar pada perdarahan antepartum tidak boleh dilakukan, karena dapat menambah perdarahan akibat lepasnya plasenta. 6 Pada penderita hipertensi, usaha versi luar dapat menyebabkan solusio plasenta; sedangkan pada kehamilan kembar, selain janin yang lain dapat menghalangi usaha versi luar tersebut, yang lebih berbahaya ialah bila janin berada dalam satu kantong amnion kemungkinan tali pusat kedua janin akan saling melilit. 6<br />
Kalau versi luar gagal karena penderita menegangkan otot-otot dinding perut, penggunaan narkosis dapat dipertimbangkan. Kerugian penggunaan narkosis untuk versi luar antara lain: narkosis harus dalam, sebab dengan narkosis ringan versi laur jauh lebih sulit dibandingkan bila penderita tetap dalam keadaan sadar. Disamping itu, karena penderita tidak merasakan sakit ada bahaya kemungkinan digunakan tenaga berlebihan dan dapat mengakibatkan lepasnya plasenta. Mengingat bahayanya, sebaiknya tidak melakukan versi luar dengan menggunakan narkosis.1,6<br />
<strong>Versi</strong><br />
Versi atau pemutaran, merupakan tindakan untuk mengubah presentasi janin secara artifisial, baik melalui penggantian kutub yang satu dengan lainnya pada letak longitudinal, atau konversi letak oblik atau letak lintang menjadi letak longitudinal.<br />
Tergantung pada bagian presentasi janin (kepala atau bokong), dapat dilakukan versi sefalik atau podalik. Jenis versi ini juga diberi nama menurut metode yang dipakai. Jadi, versi luar merupakan tindakan manipulasi yang dilakukan lewat dinding abdomen ; sementara pada versi dalam, seluruh tangan operator dimasukkan ke dalam kavum uteri.<br />
A. Versi Sefalik Luar<br />
Tujuan prosedur ini adalah untuk mengubah presentasi yang kurang menguntungkan menjadi presentasi verteks atau presentasi belakang kepala.<br />
Indikasi<br />
Jika presentasi bokong atau bahu (letak lintang) didiagnosis pada minggu-minggu terakhir kehamilan, pengubahannya menjadi presentasi verteks dapat dicoba lewat manuver luar asalkan tidak terdapat disproporsi nyata antara besar janin dan ukuran panggul. Versi sefalik dianggap oleh sebagian dokter kebidanan sebagai teknik yang sering berhasil baik dengan morbiditas yang kecil, sehingga harus dicoba untuk menghindari peningkatan angka mortalitas yang menyertai persalinan sungsang. Jika letak janin melintang, perubahan presentasi tersebut merupakan satu-satunya alternatif bagi tindakan seksio sesarea, kecuali bila janin itu berukuran sangat kecil dan biasanya belum viabel.<br />
Menurut Fortunato dkk. (1998), versi sefalik luar lebih besar kemungkinannya untuk berhasil jika : (1) bagian presentasi belum turun ke dalam panggul; (2) cairan ketuban masih terdapat dalam jumlah yang normal; (3) posisi punggung bayi tidak menghadap ke belakang; (4) pasien tidak gemuk. Denyut jantung janin harus dimonitor terus-menerus, sehingga dokter bisa mendengar suara denyut jantung tersebut selama melakukan tindakan. Kalau ada, alat sonografi akan bermanfaat. Jangan menggunakan anestesi, karena akan mengakibatkan pemakaian tenaga yang tidak semestinya.<br />
Dalam stadium awal persalinan, sebelum ketuban pecah, berlaku inidikasi yang sama. Indikasi tersebut kemudian bisa diperluas sampai pada letak bayi yang tidak stabil biasanya masih bisa berubah secara spontan menjadi letak longitudinal ketika proses persalinan berlangsung. Akan tetapi versi sefalik luar jarang berhasil kalau serviks sudah mengadakan dilatasi penuh atau kalau ketuban sudah pecah.</p>
<p>B. Versi Podalik Dalam<br />
Perasat ini terdiri dari pemutaran janin oleh dokter kebidanan yang memasukkan tangannya ke dalam rongga rahim, menangkap salah satu atau kedua kaki janin, dan menariknya keluar lewat serviks, sementara bagian atas badan janin didorong ke arah yang berlawanan secara trans abdomen. Tindakan ini kemudian diikuti oleh ekstraksi bokong.<br />
Indikasi<br />
Kecuali pada persalinan bayi kedua dalam kehamilan kembar, hanya ada beberapa indikasi untuk dilakukannya versi podalik dalam. Terkadang prosedur ini bisa dibenarkan kalau serviks sudah berdilatasi penuh, ketuban masih utuh dan janin yang berada dalam letak lintang berukuran kecil dan atau sudah mati. Kemungkinan trauma yang serius pada janin dan ibu pada waktu dilakukan versi podalik dalam dari suatu presentasi kepala.</p>
<p><strong>Managemen Dalam persalinan</strong><br />
Jenis pimpinan persalinan sungsang1,2,3,4,5,6<br />
1. Persalinan pervaginam<br />
Berdasarkan tenaga yang dipakai dalam melahirkan janin pervaginam, persalinan pervaginam dibagi menjadi 3 yaitu:<br />
a) Persalinan spontan (spontaneous breech). Janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini lazim disebut cara Bracht.<br />
b) Manual aid (partial breech axtraction; assisted breech delivery). Janin dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan tenaga penolong.<br />
c)      Ekstraksi sungsang (total breech extraction). Janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.<br />
2. Persalinan per abdominam ( seksio sesarea)<br />
A. Prosedur Pertolongan Persalinan Spontan1,5,6<br />
Tahapan<br />
1. Tahap pertama: fase lambat, yaitu mulai lahirnya bokong sampai pusat (skapula depan ).disebut fase lambat karena fase ini hanya untuk melahirkan bokong, yaitu bagian yang tidak begitu berbahaya.<br />
2. Tahap kedua: fase cepat, yaitu mulai dari lahirnya pusar sampai lahirnya mulut. Disebut fase cepat karena pada fase ini kepala janin mulai masuk pintu atas panggul, sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. Oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat segera dilonggarkan. Bila mulut sudah lahir, janin dapat bernafas lewat mulut.<br />
3. Tahap ketiga: fase lambat, yaitu mulai lahirnya mulut sampai seluruh kepala lahir. Disebut fase lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus), ke dunia luar yang tekanannya lebih rendah, sehingga kepala harus dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial (adanya ruptur tentorium serebelli).<br />
Teknik<br />
1. Sebelum melakukan persalinan, penolong harus memperhatikan sekali lagi persiapan untuk ibu, janin, maupun penolong. Pada persiapan kelahiran janin harus selalu disediakan cunam Piper.<br />
2. Ibu tidur dalam posisi litotomi, sedang penolong berdiri di depan vulva. Ketika timbul his ibu disuruh mengejan dengan merangkul kedua pangkal paha. Pada waktu bokong mulai membuka vulva (crowning) disuntikkan 2-5 unit oksitosin intra muskulus. Pemberian oksitosin ini adalah untuk merangsang kontraksi rahim sehingga fase cepat dapat diselesaikan dalam 2 his berikutnya.<br />
3.<a href="http://www.conectique.com/cetak/?article_id=6432"> Episiotomi</a> dikerjakan pada saat bokong membuka vulva. Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkram secara Bracht, yaitu kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha, sedangkan jari-jari lain memegang panggul.<br />
4. Pada setiap his ibu disuruh mengejan. Pada waktu tali pusat lahir dan tampak sangat tegang, tali pusat dikendorkan lebih dahulu.<br />
5. Kemudian penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin guna mengikuti gerakan rotasi anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu. Penolong hanya mengikuti gerakan ini tanpa melakukan tarikan sehingga gerakan tersebut hanya disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan dimulainya gerakan hiperlordosis ini, seorang asisten melakukan ekspresi Kristeller pada fundus uterus, sesuai dengan sumbu panggul. Maksud ekspresi Kristeller ini adalah:<br />
a.       Agar tenaga mengejan lebih kuat, sehingga fase cepat dapat segera diselesaikan.<br />
b.      Menjaga agar posisi kepala janin tetap dalam posisi fleksi.<br />
c.       Menghindari terjadinya ruang kosong antara fundus uterus dengan kepala janin sehingga tidak terjadi lengan menjungkit.<br />
6. Dengan melakukan gerakan hiperlordosis ini berturut-turut lahir tali pusat, perut, bahu dan lengan, dagu, mulut dan akhirnya seluruh kepala.<br />
7. Janin yang baru lahir diletakkan diperut ibu. Seorang asisten segera menghisap lendir dan bersamaan dengan itu penolong memotong tali pusat.<br />
8.	Keuntungan<br />
a.       Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir, sehingga mengurangi bahaya infeksi.<br />
b.      Cara ini adalah cara yang paling mendekati persalinan fisiologik, sehingga mengurangi trauma pada janin.<br />
9.	Kerugian<br />
a. 5-10% persalinan secara Bracht mengalami kegagalan, sehingga tidak semua persalinan letak sungsang dapat dipimpin dengan cara Bracht.<br />
b. Persalinan secara Bracht mengalami kegagalan terutama dalam keadaan panggul sempit, janin besar, jalan lahir kaku misalnya pada primigravida, adanya lengan menjungkit atau menunjuk.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/bracht1.jpg"><img src="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/bracht1.jpg" alt="" width="145" height="177" /></a>Gambar teknik hiperlordosis punggung bayi pada perasat Bracht 7</p>
<p>B. Prosedur Manual Aid1,5,6<br />
Indikasi<br />
1.	Persalinan secara Bracht mengalami kegagalan, misalnya bila terjadi kemacetan baik pada waktu melahirkan bahu atau kepala.<br />
2. Dari semula memang hendak melakukan pertolongan secara manual aid. Di Negara Amerika sebagian besar ahli kebidanan cenderung untuk melahirkan letak sungsang secara manual aid, karena mereka menganggap bahwa sejak pusar lahir adalah fase yang sangat berbahaya bagi janin, karena pada saat itulah kepala masuk ke dalam pintu atas panggul, dan kemungkinan besar tali pusat terjepit diantara kepala janin dan pintu atas panggul.<br />
Tahapan<br />
1.	Tahap pertama, lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan tenaga ibu sendiri.<br />
2. Tahap kedua, lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong. Cara atau teknik untuk melahirkan bahu dan lengan adalah secara:<br />
a.	Klasik ( Deventer )<br />
b.	Mueller<br />
c.	Louvset<br />
3.	Tahap ketiga, lahirnya kepala.<br />
Kepala dapat dilahirkan dengan cara:<br />
a.       Mauriceau<br />
b.      Najouks<br />
c.       Wigan Martin-Winckel<br />
d.      Prague terbalik<br />
e.       Cunam Piper<br />
<a href="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/bhuklsik1.jpg"><img src="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/bhuklsik1.jpg" alt="" width="340" height="119" /></a>Gambar Melahirkan bahu dan lengan dengan cara klasik/Deventer 7</p>
<p><a href="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/muller1.jpg"><img src="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/muller1.jpg" alt="" width="340" height="137" /></a></p>
<p>Gambar Melahirkan bahu dan lengan (Mueller) : ekstraksi depan kemudian   belakang 7</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/mauriceau1.jpg"><img src="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/mauriceau1.jpg" alt="" width="240" height="157" /></a>Gambar Manual aid Mauriceau-Veit-Smellie 7</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/praguetrb1.jpg"><img src="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/praguetrb1.jpg" alt="" width="140" height="175" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Gambar Perasat Prague terbalik 7</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/piper1.jpg"><img src="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/piper1.jpg" alt="" width="241" height="140" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 7. Ekstraksi dengan menggunakan cunam Piper 7</p>
<p style="text-align:left;">C. Prosedur Ekstraksi sungsang<br />
<strong>Teknik Ekstraksi Kaki</strong><br />
1. Setelah persiapan selesai, tangan yang searah dengan bagian-bagian kecil janin dimasukkan secara obstetrik ke dalam jalan lahir, sedang tangan yang lain membuka labia. Tangan yang di dalam mencari kaki depan dengan menelusuri bokong, pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi. Tangan yang di luar mendorong fundus uterus ke bawah. Setelah kaki bawah fleksi pergelangan kaki dipegang oleh jari kedua dan jari ketiga dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut.<br />
2. Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan di belakang betis sejajar sumbu panjang betis, dan jari-jari lain di depan betis. Dengan pegangan ini, kaki janin ditarik curam ke bawah sampai pangkal paha lahir.<br />
3. Pegangan dipindahkan pada pangkal paha setinggi muingkin dengan kedua ibu jari di belakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan paha.<br />
4. Pangkal paha ditarik curam ke bawah sampai trokanter depan lahir. Kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dielevasi ke atas sehingga trokanter belakang lahir. Bila kedua trokanter telah lahir berarti bokong telah lahir.<br />
5. Sebaliknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dahulu, maka yang akan lahir lebih dulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus curam ke bawah.<br />
6. Setelah bokong lahir, maka untuk melahirkan janin selanjutnya dipakai teknik pegangan femuro-pelviks. Dengan pegangan ini badan janin ditarik curam ke bawah sampai pusar lahir. Selanjutnya untuk melahirkan badan janin yang lain dilakukan cara persalinan yang sama seperti pada manual aid.1,5,6<br />
Gambar 4. Ekstraksi kaki menggunakan perasat Pinard 7<br />
Teknik Ekstraksi Bokong<br />
1. Ekstraksi bokong dikerjakan bila jenis letak sungsang adalah letak bokong murni (frank breech), dan bokong sudah berada di dasar panggul, sehingga sukar untuk menurunkan kaki.<br />
2. Jari telunjuk tangan penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan ke dalam jalan lahir dan diletakkan di pelipatan paha depan. Dengan jari telunjuk ini, pelipatan paha dikait dan ditarik curam ke bawah. Untuk memperkuat tenaga tarikan ini, maka tangan penolong yang lain mencengkeram pergelangan tangan tadi, dan turut menarik curam ke bawah.<br />
3. Bila dengan tarikan ini trokanter depan mulai tampak di bawah simfisis, maka jari telunjuk penolong yang lain segera mengait pelipatan paha ditarik curam ke bawah sampai bokong lahir.<br />
4. Setelah bokong lahir, bokong dipegang secara femuro-pelviks, kemudian janin dapat dilahirkan dengan cara manual aid (bedah kebidanan).1,5,6<br />
<strong>Penyulit persalinan pervaginam</strong><br />
1.	Sufokasi.<br />
Bila sebagian besar badan janin telah lahir, terjadilah pengecilan rahim, sehingga terjadi gangguan sirkulasi plasenta dan menimbulkan anoksia janin. Keadaan ini merangsang janin untuk bernapas. Akibatnya darah, mukus, cairan amnion dan mekonium akan diaspirasi, yang dapat menimbulkan sufokasi. Badan janin yang sebagian sudah berada diluar rahim, juga merupakan rangsangan yang kuat untuk janin bernapas.<br />
2.	Asfiksia fetalis.<br />
Selain akibat mengecilnya uterus pada waktu badan janin lahir, yang menimbulkan anoksia, maka anoksia ini diperberat lagi, dengan bahaya terjepitnya tali pusat pada waktu kepala masuk panggul (fase cepat).</p>
<p>3.	Kerusakan jaringan otak.<br />
Trauma pada otak janin dapat terjadi, khususnya pada panggul sempit atau adanya diproporsi sefalo-pelvik, serviks yang belum terbuka lengkap, atau kepala janin yang dilahirkan secara mendadak, sehingga timbul dekompresi.<br />
4.	Fraktur pada tulang-tulang janin.<br />
Kerusakkan pada tulang janin dapat berupa:<br />
a.	Fraktur tulang-tulang kepala.<br />
b.	Fraktur humerus ketika hendak melahirkan lengan yang menjungkit (extended).<br />
c.	Fraktur klavikula ketika melahirkan bahu yang lebar.<br />
d.	Paralisis brakialis<br />
e.	Fraktur femur.<br />
f.	Dislokasi bahu.<br />
g.	Dislokasi panggul terutama pada waktu melahirkan tungkai yang sangat ekstensi (fleksi maksimal).<br />
h.	Hematoma otot-otot.<br />
Mengingat penyulit pada janin akibat persalinan pervaginam cukup berat, maka perlu dilakukan evaluasi obstetrik dengan teliti, sebelum memutuskan untuk melahirkan janin secara pervaginam. Bila sudah diputuskan melahirkan janin pervaginam, maka penolong dituntut untuk menguasai teknik persalinannya secara terampil. Cara persalinan secara ekstraksi total (total extraction) merupakan cara persalinan dengan penyulit janin yang sangat nburuk, yaitu kematian janin 3 kali lebih banyak dibanding persalinan spontan. Oleh karena itu cara persalinan ini sekarang sudah tidak dianjurkan lagi pada janin hidup. Kematian perinatal pada letak sungsang dibanding dengan letak belakang kepala rata-rata 5 kali lebih banyak.1,5<br />
<strong>Komplikasi pada persalinan pervaginam</strong><br />
Persalinan sungsang dengan tarikan sampai pada lahirnya umbilikus dan talipusat menyentuh pelvis, akan menekan tali pusat. Oleh karena itu, sekali letak sungsang melewati introitus vagina, abdomen, thoraks, lengan dan kepala harus lahir secara tepat. Ini melibatkan persalinan yang sedikit cepat dapat menekan bagian-bagian janin. Pada kehamilan aterm, beberapa pergerakan kepala mungkin sukses melewati jalan lahir. Pada keadaan yang tidak menguntungkan ini, pilihan persalinan pervaginam keduanya tidak memuaskan:<br />
1. persalinan mungkin tertunda beberapa menit ketika melahirkan kepala yang menyusul melewati pelvis ibu, tetapi hipoksia dan asidemia bertambah berat; atau<br />
2.      persalinan mungkin dipaksakan, menyebabkan trauma dari penekanan, tarikan atau keduanya.<br />
Pada fetus preterm, perbedaan antara ukuran kepala dan bokong biasanya lebih besar daripada fetus yang lebih tua. Saat itu, bokong dan ekstremitas bawah fetus preterm akan melewati serviks dan dilahirkan, dan serviks belum berdilatasi cukup untuk melahirkan kepala tanpa trauma. Pada keadaan ini, insisi Duhrssen pada serviks mugkin dapat dilakukan. Walaupun demikian, trauma pada fetus dan ibu mungkin dapat dinilai, dan fetal hipoksia mungkin berbahaya. Robertson dan kawan-kawan ( 1995,1996) mengamati tidak ada perbedaan yang bermakna pada kejadian kepala terperangkap pada persalinan sungsang umur kehamilan 28-36 mingggu atau 24-27 minggu. Mereka juga menemukan tidak ada hubungan kelahiran neonatus yang tidak diinginkan setelah kepala terperangkap. Masalah lain pada mekanisme letak sungsang adalah terperangkapnya lengan di belakang leher. Komplikasi lengan menunjuk ( nuchal arm) sampai 6 persen dari persalinan sungsang pervaginam dan dihubungkan dengan peningkatan mortalitas neonatal ( Cheng and Hanah, 1993 ).<br />
Frekuensi prolaps tali pusat meningkat apabila fetus berukuran kecil atau bila sungsang tidak dalam posisi bokong murni. Dalam laporan Collea dan kawan-kawan ( 1978 ), insiden pada posisi frank breech sekitar 0.5 perse, yang sesuai dengan 0,4 persen pada presentasi kepala ( Barrett, 1991 ). Sedangkan, insiden prolaps tali pusat pada presentasi kaki adalah 15 persen, dan 5 persen pada letak bokong murni.<br />
Soernes dan Bakke ( 1986) pada pengamatan awal menyatakan bahwa panjang tali pusat umbilikus lebih pendek pada letak sungsang dari keterlibaletak kepala secara signifikan. Lebih lanjut, keterlibatan tali pusat yang melingkar-lingkar pada fetus lebih umum pada letak sungsang ( Spellacy and associates, 1996). Abnormalitas tali pusat ini sepertinya memainkan peran dalam perkembangan janin letak sungsang seperti insiden yang relatif tinggi pola denyut jantung janin yang mencemaskan pada persalinan. Sebagai contoh, Flannagan dan kawan-kawan (1987) menyeleksi 244 wanita dengan letak sungsung yang bervariasi (72 persen adalah frank brech) untuk percobaan persalinan, didapatkan 4 persen kejadian prolaps tali pusat. Fetal distres bukan karena prolaps tali pusat didiagnosa pada 5 persen wanita lainnya yang dipilih untuk persalinan pervaginam. Keseluruhan, 10 persen dari wanita yang dikenali untuk persalinan pervaginam mengalami persalinan sesarean karena berisiko dalam persalinan.<br />
Apgar skor, khususnya pada 1 menit, pada persalinan pervaginam letak sungsang secara umum lebih rendah dari bila dilakukan persalinan sesarean secara elektif (Flanagan dan kawan-kawan,1987). Dengan cara yang sama, nilai asam basa darah tali pusat secara signifikan berbeda untuk persalinan pervaginam. Christian dan Brady (1991) melaporkan bahwa pH darah arteri umbilikus rendah, Pco2 tinggi, dan HCO3 lebih rendah dibandingkan persalinan letak kepala. Socol dan kawan-kawan (1988) menyimpulkan, bagaimanapun, persalinan sesarean meningkatkan Apgar skor tetapi tidak status asm basa. Flanagan dan kawan-kawan (1987) menekankan bahwa kelahiran bayi pada persalinan sungsang tidak diperburuk oleh perbedaan yang signifikan dari Apgar skor atau status asam basa pada kelahiran.<br />
Albrechtsen dan kawan-kawan (1997) mengevaluasi percobaan untuk memilih persalinan pervaginam atau sesarean pada letak sungsang. Pada 1212 letak sungsang,<br />
D. Prosedur persalinan sungsang per abdominal<br />
1. Persalinan letak sungsang dengan seksio sesarea sudah tentu merupakan cara yang terbaik ditinjau dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan letak sungsang pervaginam, memberi trauma yang sangat berarti bagi janin, yang gejala-gejalanya akan tampak baik pada waktu persalinan maupun baru di kemudian hari.<br />
2. Namun hal ini tidak berarti bahwa semua letak sungsang harus dilahirkan per abdominal. Untuk melakukan penilaian apakah letak sungsang dapat melahirkan per vaginam atau harus per abdominam kadang-kadang sukar.<br />
3.	Beberapa kriteria yang dapat dipakai pegangan bahwa letak sungsang harus dilahirkan per abdominal, misalnya:<br />
a.	Primigravida tua.<br />
b.	Nilai sosial janin tinggi (high social value baby).<br />
c.	Riwayat persalinan yang buruk (bad obstetric history).<br />
d.	Janin besar, lebih dari 3,5 kg-4 kg.<br />
e.	Dicurigai adanya kesempitan panggul.<br />
f.	Prematuritas.<br />
Zatuchni dan Andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai lebih tepat apakah persalinan dapat dilahirkan per vaginam atau per abdominam.</p>
<p><strong>Komplikasi</strong><br />
Pada letak sungsang yang persisten, meningkatnya komplikasi berikut harus diantisipasi:1,6<br />
1.      Morbiditas dan mortalitas perinatal dari persalinan yang sulit.<br />
2.      Berat badan lahir yang rendah pada persalinan preterm, hambatan  pertumbuhan, atau keduanya.<br />
3.<a href="khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/03/askep-distosia.html"> Prolaps tali pusat.</a><br />
4.<a href="www.goldbamboo.com/video-t1630.html"> Plasenta previa.</a><br />
5.      Kelainan fetus, neonatus, dan bayi.<br />
6.      Anomali uterus dan tumor.<br />
7.      Multipel fetus<br />
8.      Intervensi operatif, khususnya seksio sesarea.</p>
<p><strong>Prognosis</strong><br />
Baik ibu maupun janin dengan letak sungsang memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan dengan letak kepala. Pada persalinan sungsang yang sulit terdapat peningkatan risiko maternal. Manipulasi secara manual dalam jalan lahir akan memperbesar risiko infeksi pada ibu. Berbagai perasat intra uteri, khususnya dengan segmen bawah uterus yang sudah tipis, atau persalinan after coming head lewat serviks yang belum berdilatasi lengkap, dapat mengakibatkan ruptura uteri, laserasi serviks ataupun keduanya. Tindakan manipulasi tersebut dapat pula menyebabkan pelebaran luka episiotomi dan robekan perineum yang dalam. Anestesi yang memadai untuk menimbulkan relaksasi uterus yang nyata dapat pula mengakibatkan atonia uteri yang selanjutnya diikuti oleh perdarahan postpartum dari tempat implantasi plasenta. Meskipun demikian, secara umum prognosis bagi ibu yang bayinya dilahirkan dengan ekstraksi bokong bagaimanapun juga lebih baik bila dibandingkan pada tindakan seksio sesarea.<br />
Bagi janin, prognosisnya kurang menguntungkan dan akan semakin serius dengan semakin tingginya bagian presentasi pada awal dilakukannya ekstraksi bokong. Di samping peningkatan risiko terjadinya ruptura tentorium dan perdarahan intraserebral, yang menyertai persalinan sungsang, angka mortalitas perinatal juga meningkat akibat semakin besarnya kemungkinan terjadinya trauma lain pada saat dilakukan ekstraksi. Lebih lanjut, prolapsus funikuli pada presentasi bokong tak lengkap jauh lebih sering dijumpai bila dibandingkan pada presentasi verteks, dan komplikasi ini selanjutnya akan memperburuk prognosis bagi bayi.<br />
Fraktur humerus dan klavikula tidak selalu dapat dihindari ketika dilakukan pembebasan lengan, dan fraktur femur dapat terjadi dalam pelaksanaan ekstraksi bokong pada persalinan frank breech yang sulit. Hematom otot sternokleidomastoideus kadang kala terjadi setelah tindakan ekstraksi, meskipun keadaan ini akan hilang spontan. Tetapi, beberapa permasalahan yang lebih serius dapat mengikuti separasi epifisis pada tulang skapula, humerus atau femur. Paralisis lengan merupakan peristiwa yang bisa terjadi akibat tekanan oleh jari tangan operator pada pleksus brakialis ketika melakukan traksi, tetapi lebih sering lagi disebabkan oleh peregangan leher secara berlebihan ketika dilakukan pembebasan lengan bayi. Kalau bayi ditarik keluar secara paksa lewat panggul yang sempit, fraktur kompresi berbentuk sendok atau fraktur tengkorak yang sebenarnya, dengan akibat yang umumnya fatal, bisa saja terjadi. Kadang-kadang leher bayi sendiri dapat patah kalau pada waktu ekstraksi digunakan tenaga yang besar.1,6</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mothmot.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mothmot.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mothmot.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mothmot.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mothmot.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mothmot.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mothmot.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mothmot.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mothmot.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mothmot.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mothmot.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mothmot.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mothmot.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mothmot.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mothmot.wordpress.com&amp;blog=7530957&amp;post=56&amp;subd=mothmot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mothmot.wordpress.com/2009/06/03/persalinan-letak-sungsang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/02c6fe59ebb1522d4ff0de4ac5bf1cf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mothmot</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mothmot.files.wordpress.com/2009/06/sss.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">sss</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.medformation.com/adamsurgpres/19157.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.halohalo.co.id/gambar/180x279sungsang.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/sungsang1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/bracht1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/bhuklsik1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/muller1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/mauriceau1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/praguetrb1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/piper1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>infertilitas</title>
		<link>http://mothmot.wordpress.com/2009/06/03/infertilitas/</link>
		<comments>http://mothmot.wordpress.com/2009/06/03/infertilitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 04:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mothmot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mothmot.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Infertilitas Pasutri (2) 7Apr2009 Kategori: Kesehatan Muslimah Kondisi Reproduksi Wanita Kelainan terbanyak pada organ reproduksi wanita penyebab infertilitas adalah endometriosis dan infeksi panggul, sedangkan kelainan lainnya yang lebih jarang kejadiannya adalah mioma uteri, polip, kista, dan saluran telur tersumbat (bisa satu atau dua yang tersumbat). Penyakit Penyebab Infertilitas pada Wanita 1. Endometriosis Endometriosis adalah jaringan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mothmot.wordpress.com&amp;blog=7530957&amp;post=47&amp;subd=mothmot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2><a title="Permanent Link Infertilitas Pasutri (2)" rel="bookmark" href="http://muslimah.or.id/kesehatan-muslimah/infertilitas-pasutri-2.html">Infertilitas Pasutri (2)</a><img class="alignright size-full wp-image-54" title="db1371951218e848" src="http://mothmot.files.wordpress.com/2009/06/db1371951218e848.jpeg?w=420" alt="db1371951218e848"   /></h2>
<p><strong>7</strong><strong>Apr</strong><strong>2009</strong> Kategori: <a title="View all posts in Kesehatan Muslimah" rel="category tag" href="http://muslimah.or.id/category/kesehatan-muslimah">Kesehatan Muslimah</a></div>
<p><strong>Kondisi Reproduksi Wanita</strong></p>
<p>Kelainan terbanyak pada organ reproduksi wanita penyebab infertilitas adalah <em>endometriosis </em>dan infeksi panggul, sedangkan kelainan lainnya yang lebih jarang kejadiannya adalah mioma uteri, polip, kista, dan saluran telur tersumbat (bisa satu atau dua yang tersumbat).</p>
<p><a title="Infertilitas Pasutri bagian 2" href="http://muslimah.or.id/kesehatan-muslimah/infertilitas-pasutri-2.html"><strong>Penyakit Penyebab Infertilitas pada Wanita</strong></a></p>
<p><span> </span></p>
<p>1. <a href="http://www.nichd.nih.gov/publications/pubs/endometriosis"><em>Endometriosis</em></a></p>
<p><em>Endometriosis </em>adalah jaringan <em>endometrium </em>yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. <em>Endometriosis </em>bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan <em>myometrium</em>) yang disebut juga <em>adenomyosis</em>, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut. Gejala umum penyakit <em>endometriosis </em>adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim,  serta -tentu saja-i nfertilitas.</p>
<p>2. Infeksi Panggul</p>
<p>Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul. Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih, demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau. Infeksi panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral).</p>
<p>3.<a href="id.wikipedia.org/wiki/Mioma_Uteri "> <em>Mioma Uteri</em></a></p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mioma_Uteri"><em>Mioma uteri</em> </a>adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, <em>mioma </em>dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim. Biasanya <em>mioma uteri</em> yang sering menimbulkan infertilitas adalah <em>mioma uteri</em> yang terletak di lapisan dalam (lapisan <em>endometrium</em>). <em>Mioma uteri </em>biasanya tidak bergejala. <em>Mioma </em>aktif saat wanita dalam usia reproduksi sehingga -saat menopause- <em>mioma uteri</em> akan mengecil atau sembuh.</p>
<p>4. <a href="http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_021_terapi_dan_perkembanganya.pdf"><em>Polip</em></a></p>
<p><em>Polip </em>adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan oleh <em>mioma uteri </em>yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan <em>uterus </em>terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh.</p>
<p>5.<a href="id.wikipedia.org/wiki/Kista "> Kista</a></p>
<p>Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia.<br />
Terdapat berbagai macam jenis kista, dan pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi standar untuk tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah <em>sindrom ovarium polikistik</em>. Penyakit tersebut ditandai<em> amenore</em> (tidak haid), <em>hirsutism</em> (pertumbuhan rambut yang berlebihan, dapat terdistribusi normal maupun tidak normal), obesitas, infertilitas, dan pembesaran indung telur. Penyakit ini disebabkan tidak seimbangnya hormon yang mempengaruhi reproduksi wanita.</p>
<p>6. Saluran Telur yang Tersumbat</p>
<p>Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG (<em>Hystero Salpingo Graphy</em>), yaitu semacam pemeriksaan röntgen (sinar X) untuk melihat rahim dan saluran telur.</p>
<p>7. Sel Telur</p>
<p>Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah <em>sindrom ovarium polikistik</em>. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya beliau memeriksakan diri ke dokter.</p>
<p><strong>Kondisi Reproduksi Pria</strong></p>
<p>Perlu pembaca ketahui bahwa kondisi reproduksi pria meliputi sperma dan seksualitas.</p>
<p><strong>Sperma</strong></p>
<p>Sperma berasal dari kata <em>spermatozoa</em>, yaitu sel kelamin jantan yang memiliki bulu cambuk. Bentuk sperma mirip kecebong. Sperma dihasilkan oleh testis. Cairan nutrisi sperma berupa cairan putih, kental, dan berbau khas yang disebut “semen”. Proses pengeluaran semen dan sperma disebut ejakulasi, sehingga cairannya disebut juga dengan cairan ejakulat.</p>
<p>Pada pemeriksaan cairan ejakulat yang normal didapatkan:</p>
<ol>
<li>Volume: ≥ 2 mililiter.</li>
<li>Lama mencair: 60 menit.</li>
<li>pH (tingkat keasaman): ≥ 7,2.</li>
<li>Kadar spermatozoa: ≥ 20 juta spermatozoa per mililiter.</li>
<li>Jumlah spermatozoa total: ≥ 20 juta spermatozoa per ejakulat.</li>
<li>Motilitas (pergerakan):
<ul>
<li>≥ 50% motil (<em>grade a dan b</em>)*; atau</li>
<li>≥ 25% bergerak progresif (grade a)</li>
</ul>
</li>
<p>dalam 60 menit setelah ejakulasi.</p>
<li>Vitalitas: spermatozoa hidup ≥ 75%.</li>
<li>Sel darah putih: &lt; 1juta per mililiter.</li>
</ol>
<p>*):<br />
<em> Grade a</em>: pergerakan sperma yang cepat, progresif, biasanya membentuk garis lurus.<br />
<em> Grade b</em>: pergerakan sperma yang lambat, biasanya kurang membentuk garis lurus.</p>
<p>Sperma membawa sifat dari bapak, yang nantinya akan bertemu dengan sel telur yang membawa sifat dari ibu. Oleh karena itu, kualitas sperma dan sel telur yang baik menjadi faktor penting dalam kehamilan.</p>
<p><strong>Penyebab Umum Ketidaksuburan Pria</strong></p>
<p>1. Gangguan di daerah sebelum testis (<em>pretesticular</em>)</p>
<p>Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu <em>hipofisis </em>yang bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon <em>testosteron</em>,  akibatnya produksi sperma dapat terganggu. Terapi yang bisa dilakukan adalah dengan terapi hormon.</p>
<p>2. Gangguan di daerah testis (<em>testicular</em>)</p>
<p>Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu. Dalam proses produksi, testis sebagai “pabrik” sperma membutuhkan suhu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 34–35 °C, sedangkan suhu tubuh normal 36,5–37,5 °C. Bila suhu tubuh terus-menerus naik 2–3 °C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu. Oleh karena itu, hindari memakai celana dalam atau celana panjang yang ketat. Usahakan tidak mengenakan celana dalam waktu tidur untuk menjaga suhu di bagian tubuh tersebut tetap sejuk. Janganlah merokok, karena penelitian menunjukkan bahwa perokok memiliki jumlah sperma lebih sedikit dibandingkan pria yang tidak merokok. Jangan mengonsumsi alkohol karena dapat mempengaruhi fungsi liver, yang pada gilirannya dapat menyebabkan peningkatan <em>estrogen</em>. Jumlah <em>estrogen </em>yang tinggi dalam tubuh akan mempengaruhi produksi sperma. Usaha lain untuk meningkatkan kualitas dan jumlah sperma adalah mengkonsumsi suplemen alami. <em>Asam amino L-carnitine</em> (ditemukan dalam daging merah dan susu) dan <em>L-arginine</em> (terdapat dalam kacang-kacangan, telur, daging, dan wijen) berkhasiat meningkatkan mutu sperma.</p>
<p>3. Gangguan di daerah setelah testis (<em>posttesticular</em>)</p>
<p>Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit -seperti <em>tuberkulosis </em>(Tb)-, serta <em>vasektomi </em>yang memang disengaja.</p>
<p>4. Gangguan lain</p>
<p>Gangguan lain yang cukup sering kejadiannya adalah pelebaran pembuluh darah atau varises. Varises pada pembuluh darah yang menyuplai testeis disebut <em>varicocele</em>. Akibatnya, darah kotor yang seharusnya dibawa ke atas untuk dibersihkan, turun lagi dan mengendap di testis. Darah kotor yang mengendap mengandung zat-zat yang melemahkan sperma, seperti adrenalin dan sebagainya.</p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Penyebab  Lain</strong></span></p>
<p>1. Kelainan Kekebalan Tubuh</p>
<p>Kekebalan tubuh berguna melawan benda asing atau kuman penyebab infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Janin juga dilindungi dengan kekebalan ini agar berkembang baik. Kekebalan tubuh diperankan oleh antibodi. Antibodi bisa menyerang kuman (benda asing) karena ada antigen pada kuman tersebut. Jadi, antigen berperan sebagai “tanda pengenal” agar kuman dapat dikenali antibodi, baru kemudian antibodi dapat menghancurkannya. Akan tetapi, pada beberapa wanita terdapat kelainan adanya antibodi antisperma, akibatnya antibodi tersebut menghancurkan sperma yang masuk sehingga pembuahan gagal terjadi. Pada beberapa pria, juga terdapat kelainan berupa antibodi yang dimilikinya menyerang sperma karena sperma dianggap sebagai benda asing sehingga sperma menjadi berkualitas jelek alias tidak mampu membuahi sel telur.</p>
<p>Pada dasarnya, wanita tidak memiliki unsur antigen, seperti halnya pada sperma atau komponen plasma semen. Namun, pada saat wanita mulai berhubungan seksual dengan pria, dalam tubuhnya akan terbentuk antibodi antisperma terhadap antigen sperma. Pada tingkat tertentu antibodi masih dapat ditembus oleh sperma yang bagus kualitasnya dan dapat mengakibatkan kehamilan.</p>
<p>2. Infertilitas Sebagai Komplikasi Penyakit Lain</p>
<p>Penyakit-penyakit yang berkomplikasi infertilitas, antara lain: penyakit genetik, kencing manis (diabetes mellitus), penyakit kelenjar gondok, kelainan hormon, dan obesitas (kegemukan).</p>
<p><strong><span style="color:#000000;">Pengobatan Bagi Pasangan Infertil</span></strong></p>
<p>Bagi pasangan yang ingin dikaruniai keturunan, hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berikhtiar, dan bertawakkal. Berusaha dengan penuh kesabaran, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.</p>
<p>Pasangan infertil sebaiknya pergi ke dokter, rumah sakit, atau klinik infertilitas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Klinik infertilitas yang ada di Indonesia, misalnya:</p>
<ul>
<li> Klinik Permata Hati RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta.</li>
<li> Klinik Fertilitas Graha Amerta RSU dr. Soetomo, Surabaya.</li>
<li> Klinik Yasmin RSUP dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.</li>
</ul>
<p>Program kesehatan mungkin yang ditawarkan oleh dokter pada pasangan infertil cukup beragam tergantung penyebab infertilitas. Yang perlu diingat, dalam usaha memperoleh keturunan kita harus tetap memperhatikan rambu-rambu syariat. Janganlah demi memenuhi keinginan untuk mendapat anak sehingga kita menghalalkan segala cara.</p>
<p>Usaha- usaha yang Dianjurkan untuk Memperoleh Keturunan</p>
<ol>
<li>Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terutama dengan banyak-banyak beristigfar.</li>
<li>Sabar, optimis, dan komunikasi yang baik antar suami-istri untuk memutuskan suatu terapi.</li>
<li>Berperilaku hidup sehat, meliputi:
<ol>
<li>Diet (pola makan) yang sehat
<ul>
<li>Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.</li>
<li>Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang, sehingga tidak menimbulkan puncak glukosa darah yang tinggi setelah makan.</li>
<li>Mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat larut.</li>
</ul>
</li>
<li>Latihan jasmani</li>
</ol>
<ol>
<li>
<ul>
<li>Latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali glukosa darah, serta mempertahankan atau menurunkan berat badan.</li>
<li>Latihan jasmani yang dianjurkan adalah dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan latihan aerobik sedang (50—70% denyut jantung maksimal*), atau 90 menit/minggu dengan latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung &gt;70% maksimal). Latihan jasmani dibagi menjadi 3-4 kali aktivitas per minggu.<br />
*) Denyut jantung maksimal: 220-umur: contoh: seseorang berumur 50 tahun, denyut jantung maksimalnya adalah 220-50=170 denyut/menit</li>
</ul>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mothmot.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mothmot.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mothmot.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mothmot.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mothmot.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mothmot.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mothmot.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mothmot.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mothmot.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mothmot.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mothmot.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mothmot.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mothmot.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mothmot.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mothmot.wordpress.com&amp;blog=7530957&amp;post=47&amp;subd=mothmot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mothmot.wordpress.com/2009/06/03/infertilitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/02c6fe59ebb1522d4ff0de4ac5bf1cf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mothmot</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mothmot.files.wordpress.com/2009/06/db1371951218e848.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">db1371951218e848</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAMIL ANGGUR</title>
		<link>http://mothmot.wordpress.com/2009/04/28/hello-world/</link>
		<comments>http://mothmot.wordpress.com/2009/04/28/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 01:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mothmot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Hamil anggur ( bahasa Latin nya : MOLA HYDATIDOSA ) adalah suatu KEHAMILAN, tetapi yang “salah jalan”; sel telur yang telah dibuahi tidak bertumbuh menjadi seorang manusia tetapi membelah diri secara “liar” dan “cepat” sehingga membentuk kelompok gelembung2 kecil2 seperti untaian buah anggur. Karena liar dan cepat ya maka rahim wanita yang hamil anggur akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mothmot.wordpress.com&amp;blog=7530957&amp;post=1&amp;subd=mothmot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-64" title="hamil" src="http://mothmot.files.wordpress.com/2009/04/hamil.jpeg?w=420" alt="hamil"   />Hamil anggur ( bahasa Latin nya : MOLA HYDATIDOSA ) adalah suatu KEHAMILAN, tetapi yang “salah jalan”; sel telur yang telah dibuahi tidak bertumbuh menjadi seorang manusia tetapi membelah diri secara “liar” dan “cepat” sehingga membentuk kelompok gelembung2 kecil2 seperti untaian buah anggur. Karena liar dan cepat ya maka rahim wanita yang hamil anggur akan lebih cepat membesar dibandingkan bila hamil normal; dan akan imbul <a href="http://diyoyen.blog.friendster.com/2008/12/perdarahan-selama-kehamilan/">perdarahan</a> melalui jalan lahir, biasanya dalam 2-3 bulan kehamilan sudah terjadi perdarahan.</p>
<p>Kehamilan mola adalah suatu keadaan patologis yang berbahaya dan karenanya harus ditangani secara benar engan kepatuhan dari si pasien ! Begitu diagnosa kehamilan mola ditegakkan secepatnya kehamilan tsb harus<br />
diakhiri !</p>
<p>Umumnya dilakukan tindakan kuret, sebaiknya di rumah sakit karena risiko yg cukup besar bahkan sering ibutuhkan transfusi darah; pengosongan rahim dilakukan dg alat vakum kuret dan dilanjutkan dengan sendok kuret; sebagian jaringan dikirim kelaboratorium patologi untuk dilihat type selnya; biasanya bila ditemukan gambaran proliferasi berlebih dari sel2 trofoblast diperlukan tindakan pengobatan lanjutan dengan chemotherapy.<br />
Pada beberapa kasus dilakukan <a href="http://www.serambinews.com/news/memahami-operasi-pengangkatan-rahim">operasi pengangkatan rahim</a>, biasanya pada wanita usia lebih dari 40 tahun dg jumlah anak sudah cukup , dipilih tindakan operasi pengangkatan rahim, bisa dengan kehamilan mola yang masih utuh ataupun setelah kehamilan mola dievakuasi.</p>
<p>Mengapa kehamilan anggur/mola membutuhkan<a href="http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/6/26/kel4.html"> penangan khusus </a>dan follow-up ketat ?<br />
Karena kehamilan mola bisa berkembang kearah proses keganasan yang disebut chorio-carcinoma !<br />
Tetapi disisi lain, chorio-carcinoma adalah kanker yang “termudah” ditangani dan memberikan kesembuhan 100%; dan inilah kanker yg mendapat predikat ” God first cancer, men first cure”</p>
<p>Utk mencegah dan mengobati sedini mungkin bila terjadi choriocarcinoma, maka seorang pasien pasca evakuasi mola masih harus melakukan follow-up ketat, biasanya sampai 1 tahun.<br />
Setelah ada hasil patologi anatomi, pasien diperiksa darahnya 4-6 minggu pasca kuret , diukur secara kwantitatif berapa kadar hormon beta-HCG ; bila masih tinggi atau tergolong high-risk mole ( berdasar kriteria dari WHO ); diberikan pengobatan methotrexate ( MTX ) ; banyak protokol, tetapi umumnya dg suntikan intramuskuler 20 mgr/hari selama 5 hari dan diimbangi dengan pemberian asam folat dosis tinggi ( tablet atau suntik ) untuk mencegah efek samping dari MTX thd saluran cerna.<br />
Bila kadar beta-HCG pasca kuret sudah normal, atau pasca suntik MTX kadar kembali normal maka cukup dilakukan follow-up dengan pemeriksaan kadar beta-HCG secara berkala, periodenya makin lama makin jarang sampai 1 tahun dengan kadar normal barulah pasien tsb dinyatakan sembuh dan diijinkan hamil<br />
lagi bila masih mau.<br />
Selama pengobatan MTX atau selama masa follow-up, pasien sebaiknya tidak hamil dan cara kontrasepsi yang dianjurkan adalah kondom dengan alasan cara kontrasepsi yg lain ( IUD, pil, suntikan ) dapat menimbulkan keluhan perdarahan yg mungkin membingungkan dan mengacaukan dengan perdarahan yang disebabkan oleh terjadinya proses choriocarcinoma pasca kehamilan mola.</p>
<p>Permasalahan yang timbul pada kehamilan anggur adalah lost of follow-up dan kemudian berkembang menjadi proses keganasan chorio-carcinoma; karena itu sangat ditekankan perlunya follow-up pasien2 post mola yg tentu saja membutuhkan kepatuhan pasien, perhatian dari sang dokter dan yang utama<br />
biaya utk kunjungan, pemeriksaan beta-HCG dan bila perlu obat2an !</p>
<p>Demikianlah secara garis besar apa itu kehamilan anggur.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mothmot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mothmot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mothmot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mothmot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mothmot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mothmot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mothmot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mothmot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mothmot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mothmot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mothmot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mothmot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mothmot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mothmot.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mothmot.wordpress.com&amp;blog=7530957&amp;post=1&amp;subd=mothmot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mothmot.wordpress.com/2009/04/28/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/02c6fe59ebb1522d4ff0de4ac5bf1cf1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mothmot</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mothmot.files.wordpress.com/2009/04/hamil.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">hamil</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
